
Saya menulis tulisan ini bukan sebagai pengamat musik, apalagi
seorang kritikus musik. tetapi saya menulis tulisan ini hanyalah untuk
menyuarakan rasa kepedulian saya terhadap realita-realita yang terjadi
pada komunitas metal negeri ini, khususnya kota Jakarta, kota dimana
saya lahir dan tinggal. Kondisi kota Jakarta semakin tidak terkendali,
masalah kemacetan, banjir hingga cuaca ekstrim seolah tidak berhenti
menggempur ibu kota kita yang konon lebih kejam dari ibu tiri ini.
Tidak sedikit dari anak muda kota ini yang membutuhkan sebuah
“pelarian”
untuk melupakan sejenak semua masalah yang mereka hadapi di tiap detik
kehidupan mereka. Acara musik konon sudah menjadi salah satu
“sarana”
pelarian yang paling diminati. Beda kalangan tentu acara yang didatangi
juga berbeda, bagi mereka yang rela menghabiskan uang orang tua demi
meminum sebotol Jack Daniels bersama kerabat dekat di dalam ruangan
sempit penuh tata cahaya dan diiringi musik dance gaya eropa dan
kroni-kroninya, sudah tentu klub malam di seputaran kemang dan menteng
lah yang mereka pilih. Tapi bagi mereka yang sudah muak dengan
kemunafikan dari gengsi insan-insan ibukota yang setiap hari selalu
menghantui kehidupan mereka, sudah tentu mereka memilih acara metal
sebagai tempat pelarian.